Ramai-ramai menolak Front Pembela Islam (FPI) di Kalimantan Tengah membuat
Kementerian Dalam Negeri mendorong perubahan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1985
tentang Organisasi Kemasyarakatan (Ormas).
Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi ingin memangkas tahapan pembubaran ormas.
"Dari teguran, teguran keras, pembekuan, pembubaran, masih bisa dibanding
ke MA. Akan dibahas agar bisa lebih sederhana," kata dia.
Revisi UU Organisasi Masyarakat ini erat kaitannya dengan evaluasi Kementerian
terhadap kemungkinan pembekuan organisasi masyarkat seperti Front Pembela
Islam, mengingat sejumlah kekerasan yang kerap melibatkan anggotanya.
Gamawan merujuk pada aksi perusakan kantor kementerian pada 12 Januari 2012
lalu. Dalam aksi unjuk rasa kala itu, beberapa anggota Forum Umat Islam, yang
didalamnya terdapat Forum Pembela Islam merusak kantor Kementerian. Dia juga
melihat kebrutalan di kawasan Silang Monas pada 2008.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ternyata memantau kasus penolakan pendirian
FPI Kalimantan Tengah. Pasca-protes ribuan warga Dayak, Sabtu 11 Februari 2012
lalu, Presiden mengaku langsung berkomunikasi dengan Gubernur Kalimantan Tengah
Teras Narang. "Mestinya mereka bertanya, kenapa yang lain boleh, tapi
saudara-saudara FPI tidak boleh? Kenapa justru ditolak?" kata SBY.
Sekitar seribuan anggota masyarakat pun merespon dengan menggelar "Aksi
Indonesia Tanpa FPI" di Bundaran HI, Jakarta, Selasa 14 Februari 2012. FPI
menolak berkomentar atas demo penolakan yang meluas dan rencana pembekuan
ormasnya. Organisasi masyarakat ini menggelar demo tandingan, di antaranya FPI
Sulawesi Selatan dan Solo, Jawa Tengah.
Dewan Suro FPI Sulawesi Selatan, Mukhsin Al-Habsy, mengatakan aksi ini menyusul
instruksi pusat kepada seluruh kader FPI mempersoalkan Gubernur Kalimantan
Tengah Teras Narang. Kasus ini dianggap sebagai pemicu penolakan terhadap FPI.
Setujukah Anda jika organisasi kemasyarakatan yang bertindak mengacau seperti
FPI dibubarkan? Mengapa?
Setiap wanita memiliki kriteria pria
yang mereka dambakan dan bisa diandalkan. Apakah itu pria yang tampan, jujur,
lucu, petualang atau yang lain.
Dibawah ini ada lima jenis pria yang
cenderung disukai para wanita sesuai dengan kriteria masing-masing :
Pria Tampan
Pria seperti ini banyak didambakan
wanita, karena selain tampan juga bisa membuat hari-hari wanita penuh dengan
kejutan. Terlebih bila suka merayu, hati wanita jadi selalu terhibur.
Pria Jujur
Wanita memilih pria jujur karena
saat berdiskusi dengan mereka, wanita bisa lebih tahu seperti bagaimana
sebenarnya cara pria melihat wanita. Bersama pria jujur, wanita cenderung
merasa lebih tenang.
Pria Lucu
Ada juga lho wanita yang suka pria
lucu lengkap dengan kacamatanya yang kadangmakin membuat lucu. Tapi jangan
salah, pria jenis ini justru selalu siap membantu ketika Anda kesulitan
menyelesaikan tugas kuliah atau memperbaiki laptop Anda ketika rusak. Pria
jenis ini orang yang selalu siap sedia kapan saja.
Pria Platonis
Pria platonis adalah pria yang
sikapnya menyenangkans eperti sahabat. Pria jenis ini bisa menjadi teman yang
baik. Bersama mereka, para wanita bisa menemukan kembali rasa percaya diri dan
merupakan teman berdiskusi yang baik juga.
Pria Petualang
Namanya juga petualang, maka tidak
akan bisa berhenti pada satu titik atau orang. Namun bersama pria jenis ini,
Anda akan menemukan satu pengalaman luar biasa bahkan sedikit liar. Anda
didorong keluar dari zona kenyamanan Anda sendiri. Tapi Anda harus ingat, pria
jenis ini tidak bisa terikat.
Lupakan rokok, minuman keras, atau
bahan kimia lainnya yang dapat membuat Anda ketagihan. Satu hal yang memiliki
dampak bagi diri Anda kini adalah jejaring sosial Facebook.
Sebuah penelitian dari University of
Chicago menyebutkan, mengecek status Facebook atau Twitter adalah hal yang
paling tidak bisa dikesampingkan selain berhubungan seks dan tidur.
Responden yang diteliti berusia
antara 18-85 tahun. Mereka diberi BlackBerry, kemudian peneliti mengirimkan
pesan kepada akun jejaring sosial masing-masing. Sebagian besar dari mereka
langsung membuka isi pesan. Artinya, setiap notifikasi yang masuk seakan
menandakan tingkat urgensi yang tinggi bagi mereka.
Ketua tim peneliti, Wilhelm Hoffman,
menjelaskan, interaksi secara terus-menerus dengan BlackBerry telah menjadi
semacam media sosial sendiri. »Kehidupan modern ditandai dengan banyaknya
konflik. Konflik berasal dari keinginan yang tinggi untuk saling menyampaikan
pesan,” kata Hoffman.
Akibat dari tingginya keinginan tersebut,
menurut Hoffman, masyarakat mengalahkan banyak hal yang lebih penting, misalnya
bekerja, olahraga, dan lain sebagainya. »Rasanya kita semua seperti tak bisa
lepas dari linimasa Facebook dan Twitter. Jantung berdebar ketika loading
melambat dan menebak-nebak apa isi linimasa berikutnya,” ujar Hoffman.
Menurut dia, dalam mengkonsumsi
rokok dan alkohol, butuh biaya yang dikeluarkan dan adanya waktu khusus.
Sedangkan penggunaan Facebook dan Twitter dapat diselingi dengan mengerjakan
hal lain.
Terdapat juga argumen yang
menjelaskan bahwa jejaring sosial sama berbahayanya dengan rokok dan alkohol.
Sebab, media tersebut seolah mendorong masyarakat pergi jauh dari dunianya dan
masuk ke lingkup terbatas jejaring sosial. Namun, mengenai efek sampingnya,
tentu sulit untuk menyamakan Facebook dengan rokok dan alkohol.
Salah satu hal yang menyebabkan
orangutan terancam adalah fakta bahwa di Indonesia, 80 persen orangutan berada
di luar wilayah konservasi. Mereka pun berada di luar wewenang Direktorat
Konservasi dan Perlindungan Alam Kementerian Kehutanan. Maka,
orangutan-orangutan yang berada di luar kawasan konservasi berada di bawah 'kemurahan
hati' para pemegang hak pengelolaan hutan.
Sial bagi orangutan jika para pemegang hak pengelolaan hutan adalah pengusaha
kelapa sawit yang tidak menyediakan cukup ruang bagi orangutan untuk bergerak,
atau malah menganggap mereka sebagai hama. Orangutan memang suka memakan buah
kelapa sawit, setidaknya buah yang berusia di bawah 3 tahun.
Deputi Direktur Konservasi Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (RHOI)
Aldrianto Priadjati, Kamis (2/2), mengatakan bahwa daya jelajah orangutan bisa
mencapai 100-150 hektar per individu orangutan. Sementara, dari kebun-kebun
sawit yang ia kunjungi pada 17-22 Januari 2012 lalu di Kalimantan Timur, area
konservasi di dalam perkebunan tidak sampai 5-10 hektar. Ia mengunjungi
beberapa perkebunan kelapa sawit tersebut untuk melihat kondisi orangutan.
Aldrianto adalah bagian dari tim penyelamatan gabungan yang tersdiri dari RHOI,
Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), dan Balai Konservasi dan Sumber
Daya Alam Kalimantan Timur (BKSDA Kaltim). Mereka sengaja menyisir beberapa
perkebunan sawit di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur untuk melihat
kondisi orangutan di lapangan setelah muncul pemberitaan-pemberitaan akan
pembunuhan primata tersebut.
Secara tidak sengaja, tim berhasil menemukan dua individu (ibu dan anak) di
lahan perkebunan milik PT Bakacak Himba Bahari. Mereka sudah pernah ke wilayah
perkebunan itu sebelumnya, hanya tidak menemukan orangutan meski melihat ada
sarang-sarang baru.
"Kami menunggu jam 5-10 pagi, lalu 4-7 sore, karena pada jam-jam itulah
orangutan ada di sarangnya. Di luar jam tersebut, orangutan akan mencari makan
atau mengeksplorasi wilayah, akan makin susah bertemu."
Dalam kunjungan hari itu, mereka mendapat informasi dari petugas keamanan yang
mengatakan ada orangutan yang sedang dikepung setelah semalaman dikejar-kejar.
Petugas keamanan tersebut pun meminta tim untuk tidak mengatakan bahwa
informasi itu datang dari dia. Tak berapa lama, tim penyelamatan pun mendapati
beberapa orang yang sedang mengelilingi orangutan betina berusia 25 tahun dan
anak orangutan, berusia 6 tahun, dalam gendongan.
Ia terduduk tenang sekitar 500 meter dari kebun persemaian, kemungkinan
kelelahan setelah semalam suntuk dikejar-kejar. Padahal biasanya tak mudah
memotret orangutan di alam liar atau mendapati mereka dalam kondisi diam.
Aldrianto melihat ada beberapa orang dalam rombongan itu yang membawa parang.
"Kita tidak tahu apa yang akan mereka lakukan. Parang bisa digunakan
sebagai alat menyerang atau untuk mempertahankan diri. Tapi mereka sempat
membuang parang melihat kami," kata dia.
Beberapa orang yang mengelilingi induk dan anak orangutan itu sempat membantu
tim penyelamatan untuk membius induk orangutan dan menanamkan chip pelacak.
Namun sesudahnya, mereka seolah meminta balasan. Ucapan 'terima kasih' tak
cukup buat rombongan yang diduga tidak berasal dari wilayah lokal, jika
didengar dari aksen dan dialeknya.
Tim Aldrianto tak berani membayangkan apa yang akan terjadi pada induk dan anak
orangutan itu jika mereka datang lima atau sepuluh menit lebih lambat.
Kedatangan mereka benar-benar tepat pada waktunya. Lebih untung lagi saat
mereka kemudian mengetahui bahwa si induk tengah hamil tiga bulan.
Induk dan anak orangutan yang kemudian dinamai Suci dan Sri itu kemudian
dipindahkan ke Hutan Kehje Sewen, Kutai Timur, milik RHOI seluas 86.450 hektar.
Yang menarik, ketika Suci yang dalam keadaan dibius tiba di Kehje Sewen, ia
tiba-tiba siuman dan langsung memanjat pohon. "Mungkin karena mencium bau
hutan, tapi itu belum pernah kami lihat sebelumnya. Sangat mengharukan,"
kata Aldrianto lagi.
Sebenarnya, Aldrianto melihat beberapa sarang orangutan, tetapi mereka tak
sempat 'menyelamatkan' orangutan-orangutan lain yang kemungkinan besar ada di
lahan perkebunan tersebut.
Keberadaan orangutan di lahan-lahan perkebunan kelapa sawit juga diakui oleh
Kepala Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam Kalimantan Timur (BKSDA) Tandya
Tjahjana. Ia sudah berkali-kali mengirimkan surat pada banyak perusahaan kelapa
sawit di Kalimantan Timur dan hanya mendapat sedikit jawaban. Balasannya pun
semua mengatakan, "tidak ada orangutan di perkebunan mereka."
Mungkin perusahaan-perusahaan kelapa sawit ini tidak mau repot-repot mencari
tahu. Tetapi, mungkin bisa saja orang-orang lapangan di perusahaan kelapa sawit
tersebut tidak bisa mengenali sarang orangutan. "Pengetahuan mereka
terbatas," kata Tandya.
Ada hal positif dari meledaknya pemberitaan soal pembunuhan orangutan,
perusahaan-perusahaan kelapa sawit jadi lebih mendengar permintaan BKSDA.
"Mereka juga takut pada sanksi hukum. Orang-orang bisnis ini tidak maulah
kena kasus hukum," ujar Tandya.
Belajar dari pengalaman penyelamatan dan pelepasliaran Suci dan Sri, Tandya
juga ingin BKSDA Kalimantan Timur untuk meningkatkan frekuensi patroli ke
kebun-kebun kelapa sawit.
Siapa sebenarnya para pemburu yang mengelilingi Suci dan Sri pada hari itu?
Tandya dan Aldrianto hanya bisa berasumsi akan motivasi mereka. Namun Presiden
Direktur RHOI Jamartin Sihite mencatat kini muncul tren perburuan oportunistik.
"Ujung-ujungnya memang uang, tapi apakah pekerjaan mereka sehari-hari
berburu orangutan, kami belum bisa pastikan," kata dia.
Yang pasti, banyak orangutan yang terlempar dari habitat aslinya karena
perluasan lahan kebun kelapa sawit. Orangutan-orangutan yang terlempar dari
habitat aslinya itu, jika tertangkap, kemudian dimanfaatkan untuk keuntungan
ekonomi. "Misalnya, induk dan anak tertangkap, ada yang lihat anaknya
lucu, ya dijual," kata Jamartin.
Tapi Jamartin juga mengingatkan, setiap satu bayi orangutan di kandang, berarti
ada satu induk orangutan yang mati. Alasannya, orangutan akan terus menggendong
bayinya sampai berusia tujuh tahun. Selama itulah sang induk mengajarkan pada
bayinya cara hidup di alam liar.
Jika bayi orangutan sudah tidak mendapat pengetahuan itu dari induknya, maka
butuh waktu tahunan untuk menyiapkan si orangutan ini untuk mengajarkan ulang
soal hutan.
Padahal, karena induk orangutan cenderung bertahan di wilayahnya, ini
menjadikan orangutan betina dan bayinya lebih rentan sebagai korban. Dengan
situasi seperti ini, tak heran jika kemudian populasi orangutan turun drastis.
Suci dan Sri diselamatkan pada saat yang tepat. Tetapi apa yang terjadi pada
orangutan-orangutan lain di wilayah perkebunan kelapa sawit? Di sinilah
Jamartin menegaskan perlunya perkebunan kelapa sawit untuk mulai memperhatikan
keberadaan satwa di areal mereka.
"Penyelamatan dan pelepasliaran harusnya jadi opsi terakhir. Yang utama
adalah bahwa perusahaan-perusahaan ini harus menunjukkan strategi
pertanggungjawaban menjaga satwa dan biodiversitas di lahan usaha mereka.
Biaya-biaya untuk menjaga kelestarian hutan harus menjadi bagian dari ongkos
produksi mereka," tambahnya
lagi.
TEMPO.CO, Jakarta - Dugaan
keterlibatan Angelina Sondakh dalam kasus suap Wisma Atlet SEA Games makin
terkuak. Setelah Yulianis dan Mindo Rosalina Manulang, bekas anak buah M.
Nazaruddin, bersaksi di persidangan, kesaksian juga datang dari Gerhana
Sianipar. Keterangan Direktur Utama PT Exatech Technology Utama, anak usaha
Grup Permai, perusahaan yang dimiliki Nazaruddin, itu makin mengukuhkan dugaan
keterlibatan Angie--sapaan akrab Angelina.
Dari dokumen yang diterima Tempo,
Gerhana mengaku diminta Rosa membuat pengajuan kas sebesar Rp 2 miliar. ”Nak,
ajukan kas untuk artis,” demikian pengakuan Gerhana dalam dokumen itu saat
diminta Rosa mengajukan kas ke perusahaan. Artis yang dimaksudkan adalah Angie.
Menurut Gerhana, kas yang diminta Rosa itu akan diserahkan ke Dewan Perwakilan
Rakyat melalui Angelina Sondakh. Sebelumnya terungkap pula rekaman percakapan
dengan Rosa bahwa Angie pernah menagih »semangka” Rp 3 miliar kepadanya.
Tempo menyambangi Gerhana di
rumahnya di kawasan Bekasi. Tapi, menurut sang kakak, Desi Sianipar, adiknya
itu selalu pulang larut malam dan sering ke luar kota. Desi mengakui adiknya
sudah lama mengenal Rosa. ”Sekitar tiga tahun lalu,” ujar Desi.
Menurut dia, adiknya bekerja di
kantor Rosa, sebuah perusahaan kontraktor di Jakarta. ”Tapi saya tak tahu nama
PT-nya,” ujar dia. Ihwal kasus Wisma Atlet, Desi mengatakan adiknya itu tak
sekali pun bercerita. ”Untuk urusan itu, dia tertutup.”
Adapun Angie tak terlihat di
kantornya di DPR. Dihubungi melalui telepon, panggilan tak diangkat. Pesan
pendek yang dikirim juga belum dibalas. Namun, dalam berbagai kesempatan, dia
selalu membantah keterangan sejumlah saksi yang mengaitkan dirinya dengan kasus
Wisma Atlet. »Bicara ke saya saja tidak pernah, apalagi meminta atau menerima,”
ujarnya, beberapa waktu lalu.